Profil KH. A. Dasuki Adnan: Ulama Perintis Pendidikan Pesantren Berbasis Integrasi Keilmuan
KH. A. Dasuki Adnan dikenal sebagai salah satu tokoh ulama yang memiliki peran penting dalam pengembangan pendidikan Islam berbasis pesantren yang memadukan tradisi keilmuan klasik dengan sistem pendidikan modern. Perjalanan hidupnya menjadi fondasi lahirnya lembaga pendidikan yang kemudian berkembang dan dikenal luas melalui lingkungan pendidikan Pesantren Alwashilah.
Latar Belakang Kelahiran
KH. A. Dasuki Adnan lahir di Dusun Tulangkacang, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada tanggal 8 September 1939. Wilayah tersebut kini termasuk Desa Arjasari, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.
Beliau merupakan putra dari Kiyai Adnan dan Nyai Mu’munah binti Kiyai Sholeh. Nama lengkap beliau adalah Ahmad Dasuki bin Adnan bin Sanawi bin Husein bin Buyut Peti, yang menunjukkan kuatnya garis keturunan keilmuan dalam tradisi keluarga pesantren yang kelak menjadi inspirasi pendidikan di lingkungan Pesantren Alwashilah.
Saudara-saudaranya antara lain Ashfiyah, Subaik, Sa’adah, Johariyah, Syafei, dan Abdul Mutholib.
Lingkungan Masa Kecil dan Kehidupan Agraris
Indramayu dikenal sebagai daerah agraris yang subur dengan hasil pertanian yang menjanjikan. Kesuburan tanah serta harga lahan yang relatif lebih murah dibandingkan daerah lain menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat pada masa itu.
Keluarga ayah beliau yang sebelumnya tinggal di Losari, Cirebon, tertarik untuk berpindah ke Indramayu setelah memperoleh informasi bahwa hasil penjualan satu petak sawah di Losari dapat digunakan untuk membeli beberapa petak lahan di Indramayu.
Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr. H. Ahmad Sanusi, M.A.:
“Bapaknya Ayah atau saya blasa memanggilnya Kakek Adnan tertarik untuk membeli tanah dan sawah di Indramayu karena menurut informasi dengan menjual sepetak sawah di Losari Cirebon dapat membeli sawah dan tanah empat petak di Indramayu.”
Setelah melalui musyawarah keluarga, akhirnya Kiyai Adnan membawa keluarganya hijrah dari Losari Cirebon menuju Indramayu. Nilai perjuangan dan keberanian mengambil keputusan inilah yang kemudian menjadi bagian dari karakter pendidikan yang terus diwariskan dalam tradisi Pesantren Alwashilah.
Inspirasi Dakwah dan Hijrah Pendidikan
Sebagai wilayah pesisir, Indramayu memiliki tantangan tersendiri dalam pengembangan lembaga pendidikan pesantren pada masa itu. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong lahirnya gagasan hijrah menuju kota besar demi memperluas dakwah dan pendidikan Islam.
Sebuah petuah orang tua menjadi refleksi perjalanan tersebut, bahwa dakwah dan pendidikan di kota membuka peluang kemajuan yang lebih besar dibandingkan daerah yang memiliki keterbatasan akses pendidikan.
Pengalaman para ulama terdahulu, seperti KH. Makrus asal Indramayu yang berhasil mengembangkan pesantren di Lirboyo Kediri, menjadi inspirasi penting dalam perjalanan dakwah yang kelak berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan di lingkungan Pesantren Alwashilah.
Perjalanan Keilmuan dan Guru-Guru Pesantren
Dalam menempuh pendidikan pesantren, KH. A. Dasuki Adnan belajar kepada sejumlah ulama terkemuka, antara lain:
- KH. Sanusi — Babakan Ciwaringin, Cirebon
- KH. Hanan — Babakan Ciwaringin, Cirebon
- Kiyai Mashadi — Karangampel, Indramayu
- Kiyai Dasuki — Pipisan, Indramayu
- Kiyai Aqil — Kempek
Nama para guru tersebut bahkan dijadikan inspirasi dalam penamaan putra-putranya sebagai harapan memperoleh keberkahan ilmu dan keteladanan ulama. Tradisi penghormatan kepada guru ini juga menjadi nilai pendidikan yang terus dijaga dalam budaya keilmuan Pesantren Alwashilah.
Inspirasi Pendirian Pesantren
Inspirasi terbesar dalam mendirikan pesantren Al-Washliyah di Jakarta berasal dari sistem pendidikan Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon (BACICIR), yang menerapkan pendidikan terpadu antara pesantren dan sekolah umum serta telah membuka pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.
Model integrasi pendidikan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi utama pengembangan sistem pendidikan yang diterapkan di Pesantren Alwashilah, dengan pendekatan keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum.
Guru-Guru di Lingkungan Akademik
Selain pendidikan pesantren, beliau juga mendapatkan bimbingan dari para akademisi di lingkungan perguruan tinggi, antara lain:
- KH. Anwar Musaddad — Bandung
- Prof. Thoyyib Thohir A. Muin — IAIN Cirebon
- Prof. Zaeni Dahlan — Rektor IAIN Cirebon
- Prof. Muhaemin — IAIN Cirebon
- Drs. Solahudin — IAIN Cirebon
Perpaduan pendidikan tradisional pesantren dan akademik modern membentuk karakter keilmuan yang integratif, yang kemudian menjadi warna khas pengembangan pendidikan di Pesantren Alwashilah.
Warisan Pemikiran dan Dedikasi Pendidikan
Perjalanan hidup KH. A. Dasuki Adnan memperlihatkan perpaduan kuat antara tradisi pesantren, pengalaman sosial masyarakat agraris, serta visi pendidikan modern. Semangat hijrah ilmu dan dakwah menjadi fondasi utama dalam membangun lembaga pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Nilai-nilai tersebut terus hidup melalui sistem pembinaan santri, penguatan akhlak, serta integrasi kurikulum pendidikan yang berkembang di lingkungan Pesantren Alwashilah. Kehadiran lembaga ini menjadi kelanjutan dari cita-cita besar pendidikan yang dirintis oleh beliau.
Melalui perjalanan panjang tersebut, Pesantren Alwashilah tumbuh sebagai ruang pendidikan yang tidak hanya menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan masa depan dengan keseimbangan spiritual dan intelektual.
Sumber informasi:
Prof. Dr. H. Ahmad Sanusi, M.A.
Editor: Abi Muqoddas Arya Malik






