Drama Air Mata dari Media Israel dengan Skenario Playing Victim

banner 728x90

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Fenomena “drama air mata” dalam media bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia komunikasi politik dan konflik. Dalam konteks Israel, sejumlah analis dan pengamat menilai adanya pola narasi yang menonjolkan posisi sebagai korban, atau yang kerap disebut sebagai strategi playing victim, guna membangun legitimasi moral di hadapan publik domestik maupun internasional.

Sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, konflik berkepanjangan dengan Palestina telah menjadi panggung utama pertarungan narasi. Pertarungan ini tidak hanya terjadi di medan militer, tetapi juga di ruang informasi global. Media menjadi instrumen krusial dalam membentuk persepsi: siapa yang dianggap sebagai korban, siapa yang diposisikan sebagai agresor, serta bagaimana respons publik internasional terbentuk.

Dalam praktiknya, narasi playing victim sering dibangun melalui beberapa pendekatan. Pertama, penonjolan penderitaan sipil. Media kerap mengangkat kisah-kisah personal, seperti anak-anak yang kehilangan keluarga, warga yang hidup dalam ketakutan akibat serangan roket, atau trauma kolektif yang ditimbulkan oleh konflik. Secara emosional, pendekatan ini sangat efektif karena menyentuh empati universal manusia. Namun, kritik muncul ketika representasi tersebut dinilai selektif, karena tidak memberikan ruang yang seimbang terhadap penderitaan pihak lain.

Kedua, pemanfaatan konteks sejarah. Narasi sering dikaitkan dengan trauma kolektif bangsa Yahudi, khususnya peristiwa Holocaust. Dengan menghubungkan ancaman masa kini dengan luka sejarah tersebut, pesan yang dibangun adalah bahwa keberadaan negara harus terus dipertahankan dari ancaman eksistensial. Dalam konteks ini, framing sebagai korban menjadi semakin kuat karena berakar pada memori historis yang mendalam.

Ketiga, framing defensif dalam operasi militer. Setiap tindakan militer kerap dikemas sebagai respons atas ancaman atau serangan sebelumnya. Dengan demikian, bahkan tindakan ofensif dapat dipersepsikan sebagai langkah defensif yang “terpaksa” dilakukan. Dalam komunikasi strategis, hal ini penting untuk menjaga legitimasi di forum internasional seperti United Nations.

Namun demikian, penting dipahami bahwa fenomena ini bukan monopoli satu pihak. Dalam konflik modern, hampir semua aktor—baik negara maupun kelompok non-negara—menggunakan strategi komunikasi serupa. Narasi korban menjadi alat yang sangat efektif karena dunia saat ini sangat dipengaruhi oleh opini publik global yang dibentuk melalui media dan platform digital.

Di sisi lain, kritik terhadap “drama air mata” ini menyoroti risiko terjadinya distorsi realitas. Ketika narasi disusun secara selektif, kompleksitas konflik dapat direduksi menjadi hitam-putih. Publik global mungkin hanya melihat satu sisi penderitaan, sementara sisi lainnya terabaikan. Hal ini berpotensi memperpanjang konflik karena memperkuat polarisasi persepsi.

Oleh karena itu, dalam menyikapi informasi dari media mana pun, diperlukan literasi kritis. Publik harus mampu membedakan antara fakta, framing, dan kepentingan yang melatarbelakangi suatu narasi. Konflik antara Israel dan Palestina bukan sekadar pertarungan fisik, tetapi juga pertarungan cerita—di mana air mata, baik yang nyata maupun yang dibingkai, menjadi bagian dari strategi yang lebih besar. Dalam konteks ini, Israel tampak menguasai panggung media sehingga seluruh skenario disusun secara rapi untuk menarik simpati dunia. Namun, di era digital saat ini, publik tidak lagi mudah percaya, karena berbagai fakta tentang kebiadaban Israel terlihat jelas dan tersebar luas di hadapan masyarakat dunia.

Pada akhirnya, “drama air mata” bukan hanya persoalan siapa yang benar atau salah, melainkan tentang bagaimana emosi manusia dimanfaatkan dalam geopolitik modern. Di tengah derasnya arus informasi, kebenaran sering kali tersembunyi di antara berbagai versi cerita yang saling bersaing untuk dipercaya. Di sinilah penguasaan media di berbagai platform menjadi strategi penting dalam membentuk opini global.

🎓 Anak Anda Siap Jadi Generasi Qur’ani & Berprestasi!

Pondok Pesantren Al-Washilah menghadirkan pendidikan agama, akademik, dan karakter dalam lingkungan disiplin dan nyaman.

💰 Cukup Rp2.000.000 + GRATIS pendaftaran | ⚡ Kuota terbatas – daftar sekarang!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *