Pendiri Pesantren Asyrofuddin Cipicung
K.H. R. Asyrofuddin merupakan seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh perintis pendidikan Islam di wilayah Sumedang. Ia dikenal sebagai pendiri Pesantren Asyrofuddin yang berlokasi di Desa Cipicung, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang.
Secara garis keturunan, K.H. R. Asyrofuddin merupakan bagian dari keluarga bangsawan Cirebon, yakni keturunan Pangeran Syamsuddin I dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Latar belakang ini menjadikannya tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga pemahaman kuat terhadap dinamika sosial dan politik pada masanya.
Latar Belakang dan Perlawanan terhadap Kolonialisme
Pesantren yang didirikannya pada tahun 1846 bukan semata-mata sebagai pusat penyebaran agama Islam, melainkan juga sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi politik kolonial Belanda di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Dikisahkan, ketika Sultan Sepuh telah lanjut usia, ia berniat menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Asyrofuddin. Namun, Asyrofuddin mengajukan syarat tegas: pemerintahan Cirebon harus bebas dari campur tangan Belanda. Syarat ini tidak dapat dipenuhi karena adanya perjanjian politik dengan pihak kolonial.
Perbedaan prinsip tersebut memicu konflik antara ayah dan anak, hingga akhirnya Asyrofuddin memilih meninggalkan Cirebon dan menetap di daerah Cikuleu, Ujung Jaya—perbatasan Sumedang dan Majalengka.
Merintis Pengajian hingga Menjadi Pesantren
Di Cikuleu, K.H. R. Asyrofuddin mulai mengadakan pengajian yang terbuka bagi masyarakat. Pengajian ini berkembang pesat karena tidak hanya membahas ilmu keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek kesadaran politik dalam menghadapi penjajahan Belanda.
Antusiasme masyarakat membuat kawasan sekitar masjid berkembang menjadi tempat tinggal para santri. Dari sinilah embrio pesantren mulai terbentuk dan berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang berpengaruh.
Perpindahan ke Cipicung dan Pendirian Pesantren
Keberadaan pesantren di Cikuleu menarik perhatian Bupati Sumedang saat itu, Pangeran Aria Suria Kusuma Adinata (Pangeran Sugih). Ia kemudian menjalin hubungan dengan K.H. R. Asyrofuddin dan bahkan menitipkan putranya, Aom Sadeli (kelak dikenal sebagai Pangeran Mekah), untuk belajar di pesantren tersebut.
Atas permintaan Pangeran Sugih, K.H. R. Asyrofuddin memindahkan pusat pesantrennya ke daerah Cipicung, Conggeang. Pada tahun 1846, secara resmi berdirilah pesantren di atas tanah wakaf seluas 3,5 hektare.
Pesantren di Cikuleu kemudian diserahkan kepada putranya, K.H. Abdul Hamid, meskipun dalam perkembangannya tidak bertahan lama.
Perjuangan dan Keteguhan Sikap
Di Cipicung, K.H. R. Asyrofuddin terus mengembangkan pesantren sekaligus menunjukkan sikap tegas terhadap kebijakan kolonial. Salah satu bentuk perlawanannya adalah dengan menanam karet di sekitar pesantren, padahal saat itu pemerintah Hindia Belanda melarang rakyat melakukannya.
Sikap ini mencerminkan keberanian dan komitmennya dalam memperjuangkan kemandirian umat.
Wafat dan Estafet Kepemimpinan
K.H. R. Asyrofuddin wafat pada tahun 1874. Kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan oleh cucunya, K.H. R. Mas’un, yang berhasil mengembangkan pesantren lebih pesat.
Dalam perjalanan sejarahnya, pesantren ini juga berperan penting pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia sebagai tempat berkumpul para pejuang dan pengungsian masyarakat.
Nama “Pesantren Asyrofuddin” sendiri mulai digunakan sejak tahun 1965 pada masa kepemimpinan K.H. Bukhorie Ukasyah Mubarok.
Warisan dan Eksistensi
Hingga saat ini, Pesantren Asyrofuddin tetap eksis sebagai lembaga pendidikan Islam yang berkontribusi dalam mencetak generasi berilmu dan berakhlak di Kabupaten Sumedang.
Warisan terbesar K.H. R. Asyrofuddin bukan hanya bangunan pesantren, tetapi juga nilai perjuangan, keberanian, dan integritas dalam menghadapi ketidakadilan.





