Nama lengkap: KH. Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Muhyi Al‑Maskumambani.
Kelahiran: Beliau lahir pada tahun 1305 H / 1887 M di Maskumambang, Gresik (sekarang masuk Desa Sembungan Kidul, Kecamatan Dukun).
Beliau berasal dari keluarga pesantren; pondok tempat beliau lahir merupakan pondok yang didirikan oleh kakeknya sendiri. Dari kecil Kiai Ma’shum telah dididik dalam lingkungan religius dan sejak muda berguru ilmu‑ilmu keagamaan.
Beliau melanjutkan pendidikan agama di Pesantren Tebuireng, Jombang, yang pada waktu itu diasuh langsung oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Di sanalah ia termasuk dalam generasi awal santri Tebuireng.
Karena kecerdasan dan kedalaman ilmunya terutama dalam hisab, falak, nahwu, dan sharaf, beliau menjadi salah satu murid yang mendapat kepercayaan besar dari Hadratussyaikh, bahkan kemudian menikah dengan putri KH Hasyim Asy’ari.
Setelah lama mengabdi di Tebuireng, beliau mendirikan Pondok Pesantren Seblak di Desa Kwaron (sekitar 300 m barat Tebuireng) pada tahun 1331–1332 H (1913 M) untuk mendidik masyarakat sekitar dan mengembangkan pendidikan Islam.
📚 Wafat
Kiai Ma’shum wafat pada 24 Ramadhan 1351 H / 8 Januari 1933 M pada usia sekitar 46 tahun dan dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng.
📘 Sejarah dan Lahirnya Kitab Al‑Amtsilah at‑Tashrifiyyah
Kitab Al‑Amtsilah at‑Tashrifiyyah adalah karya monumental KH. Ma’shum yang sangat dikenal di kalangan pesantren di Indonesia maupun di luar negeri sebagai rujukan utama ilmu sharaf (morfologi bahasa Arab).
📌 Nama populer: Kitab ini biasa disebut Tasripan atau Tasrifan Jombang oleh para santri pesantren salaf.
📌 Isi dan karakter kitab:
- Buku ini menerangkan kaidah‑kaidah tashrif (perubahan bentuk kata) bahasa Arab secara sistematis dan praktis, sehingga mudah dipahami dan dihafalkan oleh pelajar, khususnya pemula (mubtadi’in).
- Kitab mencakup kedua jenis tashrif: tashrif istilahiy (perubahan bentuk satu akar menjadi banyak bentuk untuk mendapatkan makna berbeda) dan tashrif lughawi (perubahan kata berdasarkan hubungan bentuk dengan subjeknya).
- Kelebihan kitab ini adalah susunannya yang sistematis dari bentuk fi’il (kata kerja tiga huruf dasar), hingga pola‑pola tasrif lain yang berjenjang, membuatnya cocok sebagai pedoman dasar santri baru.
📌 Kapan ditulis:
Kitab ini diperkirakan ditulis oleh Kiai Ma’shum ketika beliau usia sekitar 19 tahun, saat mulai dipercaya mengajar di Pesantren Tebuireng, menggunakan akses perpustakaan pesantren dan penguasaan beliau atas ilmu sharaf yang mendalam.
📌 Penerbitan & penyebaran:
Kitab ini akhirnya dicetak dan tersebar luas di pesantren‑pesantren Nusantara. Versi modernnya bahkan menyertakan kata pengantar tokoh agama terkemuka Indonesia, seperti Prof. Saifuddin Zuhri (Menteri Agama RI periode awal pasca kemerdekaan).
📌 Peran dalam pesantren:
Hampir semua pesantren salaf di Indonesia menjadikan kitab ini sebagai pegangan wajib untuk tahapan awal pembelajaran sharaf sebelum santri lebih lanjut membaca kitab kuning tanpa harakat.
KH. Muhammad Ma’shum bin Ali Al‑Maskumambani adalah ulama Nusantara yang karya‑karyanya memberi dampak besar dalam pendidikan bahasa Arab di pesantren. Kitab Al‑Amtsilah at‑Tashrifiyyah lahir dari kebutuhan praktis mengajarkan sharaf secara efektif, sehingga menjadi kitab dasar yang hidup dan bertahan hingga sekarang di lingkungan pendidikan Islam tradisional.





